Banda Neira
Ternyata aroma tua tidak hanya aku rasakan lewat buku yang menumpuk, tapi juga lewat kata yang kulihat.
Banda neira, sebuah surga dunia yang indah. Belum pernah ku kunjungi, hanya kulihat rupanya melalui gambar-gambar di media sosial. Tapi uniknya, namanya selalu mengingatkanku kembali pada masa-masa menjadi mahasiswa baru di tahun 2018.
Aku mengingatnya sebagai sebuah grup indie yang lagunya sempat kunyanyikan dengan suara sumbangku ini. Setiap kali aku mendengar ‘Banda Neira’ lewat kata, aku juga mendengar lirik ‘Sampai jadi debu’ lewat ingatan.
Aku mencium kembali aroma tua itu, bagaimana udara dinginnya menyentuh kulit, bagaimana usia muda begitu riuh akan hal-hal baru, dan bagaimana percaya diri itu begitu mekar mengiringi tidak hanya di pagi hari —tapi sepanjang hari.
Ternyata rekaman akan hari-hari penuh semangat itu masih sangat jelas. Berkat itu aku berjalan mengingatnya dengan senang, tidak kuingat pula hari-hari berat yang sempat membuat hatiku penuh air mata pada saat itu. Hanya. Senang.
Aroma tua yang kuingat lewat kata yang kulihat, Banda Neira. Sederhana. Tapi cukup untuk menyadarkanku bahwa aku pernah sepenuh itu.
Komentar
Posting Komentar