Perkara rindu, lagi.

Kau tahu?

Rinduku menguap pada udara.
Seperti pasir yang bertebaran tertiup angin,
dan aku tak kuasa menahan sesak karenanya.

Kupikir ini hanya sementara,
Namun ternyata ia seperti bayang-bayang yang selalu mengikutiku.
Bedanya, ia tetap ada meski gelap menyapa.

Kata orang, syarat dari sebuah rindu adalah bertemu.

Namun bagaimana jika pertemuan itu justru akan membuat luka baru?

Bukankah rindu pada seseorang yang tak pernah tersentuh sudah cukup menyiksa?

Ah, rasanya aku tidak hanya sesak.
Hatiku seperti di tancap ribuan panah. Sakit.

Ternyata perkara rindu bisa membuatku sebegini merananya.

Bolehkah aku tertawa saja?

Iya menertawakan keadaan yang ada. Biar tertawa itu menghiburku. Biar tertawa itu setidaknya mewakilkan pada dunia, bahwa aku akan baik-baik saja. Selalu.

Dan harus tidak apa-apa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banda Neira

Sebuah Kisah Dan. Bagaimana, Lara?

Kisah Remaja