Renjana | Ita Prawitasari
Ada seorang gadis yang memiliki mata setenang lautan bernama Renjana, ia putri dari raja dan ratu awan. Renjana gemar berlarian diantara kabut-kabut tebal, lalu tersenyum dengan penuh semangat. Cerianya menular hingga ke penduduk desa, disana ia akan disapa dengan penuh ramah. Bahkan meski setiap hari ia tak pernah lupa untuk datang, hangatnya jadi peluk yang selalu dirindukan.
Sosoknya membuat penduduk tak pernah sadar bahwa Renjana selalu hadir membawa banyak batu dipundaknya. Karena meski air mata sering kali membasahi pipi, senyumnya tetap saja menebarkan rasa yang penuh dengan cinta.
Di suatu malam, ia berjalan-jalan menyusuri taman ilalang sambil bernyanyi tentang bintang-bintang yang menghilang. Ditemani seorang peri bernama Marissa, Renjana berhenti dibawah pohon rindang.
“Marissa, bukankah bulan kesepian diatas sana?” kata Renjana.
Marissa menatap Renjana dengan kasih sayang dan menjawab,
“Tidak Renjana, masih ada awan.” Jawab Marissa.
“Tapi awan tidak terlihat, bukankah sama saja bulan sendirian?” tanya Renjana lagi.
Sambil tersenyum dan menunjuk langit, Marissa justru kembali bertanya.
“Renjana, apa kau tau betapa luasnya langit itu?” tanya Marissa.
“Tentu saja, tak satupun yang tak mengetahui itu.” jawab Renjana.
“Benar. Tak satupun yang tak tau betapa luasnya langit itu, tapi tak semua dapat melihat apa yang ada dilangit itu.” terang Marissa.
Renjana terdiam menatap malam yang semakin menggelap, apa maksud Marissa? Marissa menoleh kepada Renjana dan melanjutkan ucapannya.
“Bulan yang kau lihat kesepian diatas sana. Mungkin kau benar, bisa saja ia benar-benar merasa kesepian. Tapi mungkin juga.. ia hanya tak sadar sedang didekap oleh awan-awan karena langit yang luas itu sedang membuat sekitarnya menjadi gelap.” kata Marissa.
“Aku.. tidak mengerti maksudmu Marissa.” kata Renjana.
Dengan senyum yang tak luntur, Marissa menggenggam tangan Renjana. Sejatinya, ia sangat mengerti maksud dibalik pertanyaan yang Renjana lontarkan.
“Renjana, kadang karena ruang yang kita tempati terlalu luas dan yang hadir terlalu ramai kita tersesat lalu merasa takut dikesendirian. Padahal, sebenarnya kita hanya tak menyadari bahwa, ada banyak tangan yang mampu mendekap kita.” jawab Marissa.
“Bisa saja bulan takut bahwa dekapan itu akan menyesakkan.” kata Renjana.
“Atau justru menghatkan?” tanya Marissa kembali.
“Bulan hanya perlu beri kesempatan untuk awan menghangatkannya. Ia hanya perlu memberi kesempatan, Renjana. Meskipun awan itu tak terlihat dan langit terlihat mendung, hujan akan datang untuk menemani.” lanjut Marissa.
Renjana terdiam dan mulai menyadari bahwa hampa dan sepi yang ia rasakan ditengah keramaian adalah karena ia tak menyadari bahwa dunia yang ia miliki begitu luas dan masih banyak yang bisa mendekapnya dengan penuh hangat.
“Renjana, segelap apapun harimu dan sesepi apapun yang kau rasakan. Ingatlah, masih banyak yang menyayangimu termasuk aku dan bersyukurlah untuk itu. Kau tak akan kesepian, karena langit tak akan membiarkan itu. Selain memberi senyuman pada orang lain, kau harus menerima senyummu sendiri. Karena kesempatan bahagia itu ada pada dirimu, bukan yang lain.” jelas Marissa.
Dan malam itu jadi penutup dari hari-hari sepi yang Renjana lalui.
-Selesai-
Komentar
Posting Komentar