Hai, aku mau cerita.
Pasti banyak dari kalian sudah bosan sekali dengan ceritaku, atau berpikir "dia kenapasih?" Hahahaha.
Engga apa-apa, kita semua punya definisi meluapkan juga rasa melepas sepi dengan cara yang berbeda-beda. Meskipun dianggap aneh, juga terlalu berlebih atau larut, perlu kalian ketahui bahwa itu hak kalian dan aku tidak punya hak untuk melarang soal penilaian kalian terhadapku.
Saat ini aku hidup sudah lebih dari 20tahun ditambah 9bulan usia saat ibu mengandungku. Menurut who, usiaku sudah termasuk usia dewasa. Tapi, siapa yang bisa memastikan bahwa angka adalah tanda kedewasaan?
Selama bertahun-tahun aku hidup berdampingan dengan tawa juga air mata, sangat dekat hingga jaraknya tidak terlihat. Jiwaku nyaris mati berkali-kali kala aku berisi keras menjadi bahagia. Ternyata.. menjadi manusia tak hanya harus menjadi bahagia tapi harus menikmati!
Hidup kadang-kadang terlalu mustahil untuk tidak ditangisi, kata orang kita harus berhenti secepatnya. Tapi setelah berperang melawan waktu, aku sadar bahwa kesedihan juga harus dinikmati, didengar, dan ditemani hingga akhir.
Tidak ada yang mau menjadi sedih, tapi tidak seorang pun yang tidak dapat melewatinya.
Kadangkala aku berkaca lalu bertanya pada diriku sendiri "Kenapa kamu berbeda? Kenapa kamu tidak bisa menjadi seperti dia yang kuat, tidak banyak bicara, dan.. keren saat menghadapi sedih?"
Lalu, kepalaku menjawab dengan kembali bertanya "Memangnya keren saat menghadapi sedih itu bagaimana?"
Dan, muncul jawaban-jawaban denialku seperti, "Tapi... harusnya aku...."
Ternyata tidak ada habisnya! Yang ada aku malah makin kepikiran dan menyiksa diriku sendiri.
Mereka menyuruhku untuk cepat menerima keadaan, tapi banyak dari mereka tidak dapat menerima sedihku. Memaksaku dengan semangat tanpa benar-benar merangkulku.
"Ayo semangat, kamu harus bisa cepat bahagia!"
Bagaimana bisa benar-benar bahagia, jika sedih saja sukar dimengerti? Bagaimana bisa benar-benar bahagia, jika sedih saja tidak benar-benar bisa dinikmati hingga akhir?
Bukan, bukan berarti aku bilang aku akan terus bersedih. Tidak seperti itu.
Tapi, ketahuilah sedih dan sakit juga pilu hingga laramu juga hidup bersamamu. Apapun yang kau rasakan, itu tidak dapat dicegah atau bahkan meski kau prediksi ia bisa dengan tidak sopannya masuk dalam hidupmu tanpa salam.
Tidak apa, jika kamu terluka.
Tidak apa, jika jiwamu sekarat.
Tidak apa, menjadi berbeda karena kamu adalah kamu.
Tidak apa, jika kamu tidak baik-baik saja
Dirimu berhak tau, dirimu menerima itu. Bukan karena kamu buruk atau tidak pantas bahagia, tapi karena kamu manusia. Karena kamu pantas menikmatinya, karena kamu akan menjadi benar-benar bahagia.
i-11120
Komentar
Posting Komentar