Tentang Biru
Hallo, selamat pagi, siang, sore, malam, kapanpun waktumu saat membaca ini.
Dalam ceritaku kali ini aku ingin memperkenalkan seseorang yang sudah mengisi hari-hariku kurang lebih dua bulan lalu (dari waktu aku menulis ini) selama dua bulan. Panggil saja dia dengan sebutan Biru, kuberi nama itu karena ia seperti langit dan lautan, meski aku naik pesawat aku tidak pernah benar-benar bisa menggapai langit dan meski aku berada di tengah lautan aku tidak pernah benar-benar menggapainya. Biru ini, seseorang yang membuat perasaanku terbang dan tenggelam di waktu yang bersamaan.
Ah, dan lagi sejujurnya ini adalah bentuk kenekatanku lainnya. Atau kalau-kalau aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi, aku harap ia akan baca ini sebagai salam perpisahan yang damai dariku.
Kurang lebih tiga atau empat bulan lalu Biru hadir disaat jiwaku nyaris sekarat, disaat aku benar-benar takut melihat dunia. Kupikir ia adalah seseorang yang hadir dengan rasa kasihan, tapi ternyata Biru hadir dengan penuh perhatian. Aku tidak pernah punya rencana untuk jatuh hati lagi setelah bertahun-tahun lamanya tapi ia datang dengan sayang —pikirku. Biru, mengenal diriku yang kelam dan penuh gulita. Kadang-kadang rasanya aku tidak percaya diri ia ada disampingku, melihatku penuh lebam dengan prahara peliknya rasa. Diriku yang tidak stabil ini, diterimanya dengan tenang.
Semalam, tepat semalam dari saat aku menulis ini aku menceritakan kenanganku dan Biru bersama saudaraku mengenai perpisahanku dan juga keputusanku untuk melepas. Terus terang aku bahkan masih merindukannya, tapi lebih dari itu kita sama-sama manusia yang penuh luka. Aku tidak ingin menyalahkannya sama sekali, aku melepasnya karena aku sampai pada kesimpulan bersamaku ia tidak bahagia.
Biru, jika kamu baca ini aku harap kamu tau bahwa aku mempercayai tentang keingananmu membuatku senang. Aku sama sekali tidak meragukan itu.
Biru mungkin engga sadar kalau ia memaksakan diri untuk membuatku bahagia sampai-sampai ia tidak siap untuk aku masuk kehidupnya. Karena itu, aku sampai pada kesimpulan bahwa ia tidak benar-benar bahagia bersamaku. Aku, bukan pulang yang ia tuju.
Kita terlalu pelik untuk terus bersama, sedang kita dihantui oleh luka-luka lama. Tidak ada yang salah dari Biru, tidak pula dengan aku. Bahkan aku juga tidak kaget jika setelah tidak bersamaku Biru mencari orang lain, berjalan dan mengisi waktu-waktunya bersama seseorang yang mungkin bisa menjadi pulangnya. Biru, berhak mencari kebahagiannya.
Hari-hariku bersama Biru cukup singkat, tapi aku bahagia.
Aku pernah mendapat pertanyaan dari sahabatku mengenai; bagaimana jika Biru kembali?
Maka jawabanku, tidak. Tidak, selagi ia tidak benar-benar bahagia bersamaku. Tidak, selagi ia tidak benar-benar menyadari perasaannya terhadapku. Biru, terlalu berharga untuk merelakan perasaannya terhadap orang yang ia ragukan. Tapi jika ditanya kemungkinan, aku tidak mau denial dan selalu kujawab di dunia ini kemungkinan itu pasti ada.
Tepat tiga hari lalu dari aku menulis ini, saat aku melihat file video di hpku, aku tidak sengaja melihat Biru ada di salah satu videoku bersama teman-temanku. Ia berada tepat disebelahku pada bangku yang sama dan memakai warna baju yang sama pula denganku. Saat tidak sengaja melihat dan menyadari bahwa itu adalah Biru, aku cukup terkejut karena saat itu aku sama sekali belum mengenal Biru, belum mengetahui nama dan juga rupanya ⎯tapi, itu Biru!
Sayang sekali, aku tidak bisa menunjukkan itu kepada Biru dengan penuh semangat saat ini karena rasanya canggung sekali.
Biru, ternyata kamu ada didekatku bahkan jauh sebelum aku menyadari sosokmu ada.
Ada banyak sekali tempat-tempat yang belum aku kunjungi bersama Biru, seperti; pergi ke kebun binatang untuk memberi makan rusa seperti keinginan Biru atau pergi ke pantai seperti keinginanku.
Biru, kalau kamu baca ini aku juga ingin bilang bahwa ibuku bilang kamu anak baik. Sayang sekali aku tidak menyadari kesempatan saat kamu ingin menemaniku membeli sepatu, coba saja saat itu kuiyakan mungkin kamu sudah berkenalan dengan ibuku dan akan disayangnya! Ah, tapi jangan besar kepala ya! Ibu juga bisa mencubitmu kalau kamu nakal.
Saat lelah sepulang kerja dan mengantuk, Biru adalah orang yang masih dengan suka rela mau mendengarkan ceritaku. Biru adalah orang yang menggenggam tanganku dengan hangat, dan Biru juga adalah orang paling cerewet setelah ibu, bapak dan kakak-kakakku yang menyuruhku makan.
Biru yang aku kenal adalah seseorang yang tulus. Biru, semoga kamu akan selalu menjalani hari-harimu dengan ketulusan.
Sayang sekali kesempatan kita singkat. Meski aku juga tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya, tapi semoga bahagia dan ketulusan selalu menyertai aku dan kamu.
with love,
aku.
Komentar
Posting Komentar