Musuh Bunda
Aku tidak peduli bagaimana rupanya datang dengan suara lantang yang meneriakkan makiannya. Bunda bilang, memang putus asa lebih suka hadir tanpa salam dan permisinya. Bunda bilang, putus asa memang senang menapakkan kakinya dengan keras pada isi kepala. Dan Bunda bilang, putus asa kadang kala seindah gerhana malam yang tertutup awan.
Aku tidak peduli bagaimana rupanya datang dengan tajam dan menusuk tulang-tulangku yang kuat. Bunda bilang, ia memang senang bercengkrama karena butuh teman. Bunda bilang, ia lah yang kelak-kelak akan menjadikanku lebih manusia. Dan Bunda bilang, lukanya akan memberi kenangan yang lebih berjiwa.
Aku tidak peduli bagaimana nafasku tidak didengar oleh dedaunan atau pohon kelapa yang bergandengan. Bunda bilang semesta punya umpamanya yang menjadi ia, pula kisah istimewa yang belum tentu terlihat semua mata.
Musuh bunda, hadir sebagai si tidak percaya diri yang kadang-kadang mengusikku lebih lama. Tapi ia tidak bisa apa-apa karena peduliku berkisar tentang semua asa yang menjadi saudara.
Salam kawan, dari aku si anak Bunda yang sangat rupawan.
-i/11pm10222
Komentar
Posting Komentar