Kekasihku.
Pertama kali aku menyadari keberadaannya adalah saat kita sama-sama menjadi panitia di kampus pada tahun 2019, namun aku benar-benar baru mengenalnya pada awal tahun 2022 ini. Bisa dibilang kisahku dengan kekasihku ini cukup membuatku sering merasa "Tuhan, kok bisa ya?" alias masih sering terasa tidak nyata.
Aku hanya mengetahuinya dari media sosial saat dia mengikuti akunku di Instagram dan kuikuti balik karena bertemu di kepanitiaan. Kita tidak pernah mengobrol sama sekali, bahkan aku hanya berbicara seperlunya saat itu.
Sejujurnya, aku sempat merasa dilirik oleh dia beberapa kali saat acara berlangsung dan aku menyadari itu lewat ekor mataku! Namun, aku takut terlalu percaya diri dan tidak berani cerita kepada siapa-siapa kecuali pada satu temanku yang bisa kita sebut saja dengan 'Ipun', karena tidak mau terima bilamana itu hanya prasangkaku saja hahaha, kan aku tetap perempuan!
Saat aku menulis ini, tentu aku sudah menceritakan apa yang aku rasakan di hari itu padanya, kekasihku. Tau tidak? Ternyata aku tidak salah sangka! Yang paling membuatku merasa spesial adalah, dia bahkan mengingat baju apa yang aku pakai saat itu dan bahkan mengingat apa yang aku lakukan ⎯yahh meski hal yang dia ingat adalah saat aku menyendiri memeluk kaki lalu dengan bosan mencabut rumput. Sebenarnya kegiatan tentangku yang dia ingat itu sama sekali tidak keren. Tapiiii, aku sangat senang karena ingatannya yang keren itu!
Seperti yang telah kusebutkan di awal bahwa aku dan kekasihku ini tidak pernah mengobrol sama sekali dan bisa dibilang hanya saling tau nama. Namun pada awal tahun 2021 aku adalah orang yang pertama kali menghubunginya karena tugas kuliah yang sempat membuat riyuh -sang maha kepanikan dalam diri-. Tapi ngomong-ngomong aku ingin berterimakasih kepada dosenku yang sempat tidak jelas memberi aturan pada tugasnya, karena dari situ aku punya cerita bagaimana pertama kali aku 'mengobrol' dengan dia. Yah.. tapi lagi namanya juga saat itu hanya 'kepentingan', meski aku yang menghubunginya pertama kali, aku jualah yang dengan lupa diri tidak merespond obrolan itu alias aku baca saja chatnya ehehehe.
Setelah perkara tugas itu, kita masih tidak pernah mengobrol meski melalui media sosial selain dia yang sesekali merespond instastory ku dengan stiker dan rentang waktunya pun cukup jauh. Singkat cerita di tahun 2021 aku dan dia juga sempat menjalani pendekatan dengan orang lain, jika kalian membaca tulisanku sebelum ini kalian tau bahwa seseorang yang berhubungan denganku adalah si Biru.
Setelah berkali-kali patah dan engga mau menjalani suatu ‘hubungan’ lagi, Fahri datang dengan langkah yang kulihat ragu tapi anehnya terus maju tanpa henti.
Tidak ada kata-kata romantis, tidak pula dengan janji-janji manis —hanya jujur.
Sempat bingung dan kupikir ‘yasudah’ saja, eh tau-tau ‘menyatakan’ dan ngajak keluar. Tidak ada basa-basi namun rekah terima kasih. Kadang terasa seperti tiba-tiba, setelah melihat kilas balik ternyata ada perjalanan panjang yang kita lewati.
Lucu juga. Siapa yang tau kamu tertulis dalam sejarah aku dan nafasku?
Kemarauku yang kupikir akan berganti ke musim semi nyatanya benar-benar berganti meski dalam sepuluh bunga ada saja yang layu, tapi musim semi tetap saja musim semi!
Tidak ada jaminan kita terus senang, pula tidak ada jaminan tangisan yang tercipta hanya tentang haru.
Ada tahun-tahun yang telah ‘terlewati’ meski kita sadari. Pada akhirnya langkah ragumu tetap saja tak letih untuk terus melaju dalam duniaku yang bising ini.
Hebat juga kamu Fahri, terima kasih ya! ♡✨
Komentar
Posting Komentar