Mimpi.

Apa kamu punya mimpi?

Aku pernah mengungkapkan mimpiku, tentang aku yang ingin menjadi relawan dan juga seniman.


Kali ini mimpi-mimpi mengenai diriku yang ingin menjadi seniman kembali bergentayangan.


Aku ingin sekali menjadi seorang penyair atau penyanyi, bukan karena aku ingin dilihat dipuji, tapi karena bagiku suaraku harus didengarkan. Aku tumbuh dan hidup bersama syair-syair yang mungkin tidak akan benar-benar kau mengerti jika tidak terikat dengannya.


Ayahku, bukan orang yang mendukung mimpi-mimpiku meskipun beliau bilang aku bebas memilihnya.


Tapi tau tidak? Lucunya aku dengar dari kakakku bahwa beliau membanggakanku didepan teman-temannya.


Aku selalu percaya diri ketika mendengar ibuku menceritakan diriku yang sejak kecil begitu riang ketika bernyanyi, rasanya aku begitu bercahaya terlepas dari suaraku yang tidak diterima semua orang, hahaha.


Aku juga punya mimpi bisa berdiri diatas panggung, lalu kelak jika aku menjadi ibu aku ingin mengenalkan pada anakku, tentang jiwaku yang bebas beterbangan  membagikan kasih lewat syair-syair.


Aku pernah patah ketika rasanya mimpiku terbunuh dengan kejam, lalu ibuku bilang bahwa ia akan selalu mendukungku.


Ibu bilang, aku harus senang dulu.


Dari situ aku punya pemikiran bahwa, benar aku harus senang dulu aku harus menyadari yang kusuka dulu dan dengan begitu aku tidak terlalu takut menerima pilu lara dan duka kala hadir menyapa.


Dari situ pula, aku yakin Tuhan selalu punya alasan memberikanku perasaan cinta pada syair.


Syair dan aku sudah jadi satu dan tidak dapat terpisahkan, karena itu aku tidak pernah benar-benar meninggalkannya meski banyak sekali pertentangan dari orang-orang sekitarku.


Setidaknya, aku punya ibu.


Tuhan, Ibu, makasih karena membiarkanku bermimpi dengan bebas serta merta membiarkan suaraku terbang meski sayapnya terluka.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banda Neira

Sebuah Kisah Dan. Bagaimana, Lara?

Kisah Remaja