Apa itu menderita?
“Life is suffering.”
Pernah denger kalimat itu tidak?
Menurut kamu, menderita itu seperti apa? Bagaimana rupanya? Suaranya? Atau.. rasanya?
Belakangan ini aku bertanya-tanya tentang apa aku menderita, tapi aku masih bisa tertawa dengan keras. Jadi, apakah aku benar-benar menderita? Atau tawaku yang keras adalah refleksi dari penderitaanku?
Bagaimana aku bisa memberikan standarisasi untuk suatu penderitaan itu?
Di awal tahun lalu, tepatnya Februari 2021 adalah pertama kalinya aku menemukan benjolan di tubuhku yaitu, ketiakku. Benjolan itu muncul kurang lebih 2minggu.
Lalu, masih pada tahun yang sama di pertengahan Juni hingga Juli awal benjolan itu muncul lagi dengan waktu yang lebih lama.
Semua benjolan itu kupikir hanya karena iritasi akibat mencukur bulu ketiakku. Di sisi lain aku juga menyadari ada suatu hal yang tidak beres, karena aku merasakan badanku sering panas. Dan perlu kuakui, aku takut.
Setelah benjolan itu hilang, aku merasa lebih lega.
Tidak disangka, di bulan Oktober aku menemukannya lagi tapi kali itu di leher kananku. Awalnya kupikir hanya sakit leher karena salah tidur, saat itu masih disekitar awal bulan tapi saat tanggal 20 Oktober, pagi hari dimana aku bersiap-siap ingin menyambut ibu dan bapak yang berkunjung ke rumah (karena aku merantau) aku merasakannya lagi.
Yahh perlu kuakui juga bahwa waktu itu aku memang sedang sibuk-sibuknya dan badanku sangat tidak nyaman.
Setelah benjolan di leher mulai mengecil, di pertengahan November aku menemukan benjolan lagi dibelakang telingaku. Kali itu, ia tidak sendirian melainkan berdua.
Di akhir November aku memeriksakan diri ke RS. Aku memiliki riwayat alergi dingin dan juga imun yang tidak sebaik orang lainnya. Benjolan itu hadir sebagai tanda, bahwa tubuku sedang berperang dengan diriku sendiri.
Di waktu-waktu itu aku sedang mempersiapkan proposal skripsiku, tanggung jawab terakhirku sebagai mahasiswa.
Tidak mulus.
Tiga kali mengganti analisis dan tidak terhitung berapa kali harus mengganti judul.
Ah aku bukan seseorang yang pandai di akademik, tapi aku suka belajar. Aku berusaha sekuat yang aku bisa.
Saat mendekati waktu seminar, ternyata seminarku harus ditunda selama kurang lebih sebulan.
Saat menyiapkan proposal, aku mempersiapkan 2 subjek yang akan kupilih untuk kuteliti. Tentu ada satu subjek yang memang aku fokuskan.
Dan setelah dua bulan berusaha meneliti, sayangnya ada hal-hal yang tidak bisa kulanjutkan.
Aku berusaha untuk melanjutkan penelitian dengan subjek ke-2 yang aku pilih. Ah, tapi setelah itu aku tidak sanggup membuka laptop.
Aku sedikit bermasalah dengan kecemasan dan panik, ehehehe.
Jadi selama kurang lebih dua bulan lagi aku benar-benar stuck dan tidak membuka laptop. Karena tiap kali berusaha membukanya, aku pasti akan mual dan juga sesak.
Di tahun 2022 sampai aku menulis ini, aku sudah 2 kali injeksi infus vitamin, 1 kali injeksi suntik vitamin dimana di dalam 1 waktu itu aku mendapat 3 suntikan, dan 1 kali dirawat di rumah sakit selama kurang lebih 5 hari karna typhus.
Saat dirawat aku mengalami penurunan trombosit dan juga leukosit. Pada hari kedua, aku mengalami ruam.
Ah sehari setelah di rawat, darahku yang beku sempat membuat aliran infus tersendat dan tanganku bengkak. Sakitnya? Nikmat! Hahaha.
Lalu saat mencoba mengganti infus dan merubah posisinya juga mengganti jarumnya untuk ukuran anak kecil, pembuluh darahku pecah. Ah, saat itu infusan dipasang di tangan kiriku. Akhirnya diganti dan dipasang kembali di tangan kananku menggunakan jarum infus bayi.
Skripsiku? Tentu kulanjutkan meskipun mungkin bisa dibilang prosesnya sangat lambat.
Aku berusaha menyelesaikan penelitianku. Dan baru-baru saja saat bimbingan kembali ternyata aku harus meneliti ulang. Rasanya? Luar biasa!!!
Nikmat Tuhan manalagi yang bisa engkau dustakan? Hehehe
Bagaimana? Dari ceritaku, apakah itu termasuk penderitaan? Tapi saat ini aku masih bisa tertawa dan bahagia bersama orang-orang yang aku sayang.
Apakah aku menderita?
Apa itu menderita?
Jika di tanya apakah aku sedih? Maka sudah pasti jawabanku iya.
Terus terang selain tidak pandai di akademik, aku juga tidak pandai berbohong atau menutupi perasaanku. Saat melakukannya pasti akan menjadi sia-sia, karena pasti ketahuan.
Aku merasa tidak sanggup untuk melanjutkan. Berat. Tidak tau langkah apalagi yang harus aku jalani meskipun sudah diberi arah. Tapi disisi lain aku percaya bahwa semua ini pasti akan berlalu.
Sampai saat ini, dimana aku menulis ini aku masih tidak punya standarisasi tentang pendertiaan.
Tidak pula adanya perbandingan. Setiap orang mempunyai kadarnya masing-masing. Karena itu, bagiku standarisasi tentang penderitaan itu tidak ada.
Yang ada adalah luka, sakit, sedih. Atau perasaan tidak nyaman lainnya yang bisa kamu sebutkan.
Apa itu penderitaan?
Apakah penggabungan dari semua perasaan tidak nyaman? Atau sekarat?
Kalau kamu sudah baca sampai sini, apakah kamu tau apa itu menderita? Atau kamu sedang menderita?
Aku meyakini bahwa percaya dan harapan adalah alasan seseorang bisa bertahan disaat merasa sekarat.
Bagaimana jika kepercayaan dan harapan itu hilang?
Apakah itu jawaban untuk menderita?
Tidak.
Kamu memang terluka atau sedang terluka, tapi kamu tidak menderita. Kamu hanya sedang berproses untuk menjadi lebih kuat. Kamu sedang berproses untuk menjadi lebih manusia.
Tidak ada estimasi waktu yang tepat untuk itu, tidak ada standarisasi lambat maupun cepat. Standarisasi itu berlalu pula untuk semua yang kamu rasakan.
Tidak apa-apa tidak baik-baik saja.
Tidak apa-apa, karena semua pasti akan baik-baik saja.
Tidak apa-apa, bertahan sampai sekarang. Kamu sudah hebat!

Komentar
Posting Komentar