Patah untuk Jatuh Hati Kembali
Usiaku belum sampai seperempat abad saat menulis ini, tapi pengalaman patah hatiku rasanya sudah luar biasa.
Kadang aku bertanya-tanya, patah hati orang lain seperti apa? Apakah sama luar biasanya dari yang aku rasakan atau lebih dari itu? Tapi.. bukankah patah hati pada intinya tetap tentang patah? Tidak ada yang lebih atau kurang, patah ya tetap saja patah.
Jika diibaratkan dengan batang pohon, atau tangkai bunga, ketika batang atau tangkai tersebut patah maka ia akan jatuh.
Tapi semesta tidak sejahat itu, saat batang atau tangkai tersebut jatuh maka ia akan melebur bersama tanah. Ia akan tumbuh kembali, bersama tumbuhan lain yang lahir diatasnya.
Setelah melalui beberapa pengalaman yang sebenarnya juga tidak banyak namun tentu membekas dalam ingatan, ternyata patah tidak seburuk itu.
Bagiku patah adalah tentang bagaimana kita tumbuh kembali.
Aku sempat berpikir untuk tidak ingin jatuh hati lagi dan juga bertekad untuk menjadi wanita kuat yang bisa hidup sendiri.
“Yang penting aku bisa berbuat baik, mencukupi kebutuhanku, berbagi kepada keluargaku, menjadi bermanfaat bagi sekitarku.”
Tapi, ini hidup dan aku hanya manusia. Setangguh-tangguhnya, aku tetap butuh cinta. Tidak hanya cinta terhadap diri sendiri namun merasa dicintai oleh orang lain juga sama pentingnya.
Setelah jatuh cinta terhadap diri sendiri, mencintai dan dicintai oleh orang lain adalah hal sederhana yang membahagiakan. Yah.. meski sederhana, namun perkara cinta memang kadang-kadang sukar di mengerti oleh perasaaan sendiri.
Namanya juga perasaan, ia tidak punya rupa. Sederhana, namun rentan. Kuatnya hanya dimiliki oleh jiwa-jiwa yang penuh kepercayaan.
Perasaan itu seperti keinginan untuk mati yang diteriakkan oleh suara namun sebenarnya berarti permohonan untuk selamat —Sederhananya, permintaan seseorang yang meminta pertolongan untuk hidup. Sebuah kematian yang berarti sebuah harapan besar untuk bahagia namun berada di jurang keputusasaan.
Patah hati tidak hanya perkara cinta yang gagal, ia juga bisa jadi alasan untuk segala kegagalan. Mimpi yang tidak bisa dicapai misalnya. Bukan, bukan karena mimpi itu tidak dapat diusahakan terus menerus, tapi.. karena mimpi itu memang harus di relakan.
Dunia, penuh dengan lika liku rupa luka. Ada banyak sekali hal-hal yang memang tidak bisa kita capai meski diusahkan mati-matian beribu kali, ya.. karena memang bukan jalannya. Namun usaha itu juga bukan berarti sia-sia.
Lagi-lagi, kita dipatahkan untuk tumbuh kembali. Entah bersama mawar merah, dandelion yang menyebar di udara, atau anyelir yang selalu berkawan dengan embun pagi.
Semoga kita bisa tumbuh kembali bersama hal-hal indah yang memberi harum pada semesta, setidaknya anggap itu kenangan yang akan kita ciptakan untuk masa depan nanti meski harus patah berkali-kali terlebih dahulu —tidak apa-apa.
Semesta selalu punya cara untuk membuat kita belajar, bahwa yang indah kadang harus didapatkan dengan sekarat.
-i

Komentar
Posting Komentar