Postingan

Tentang Malam

Bagaimana kamu akan memaknai malam yang tidak henti-hentinya membuat nafas bimbang ? Bagaimana kamu mengartikan segala kesunyian sedang isi kepala riuh dengan irama  yang tak jelas di tengah hiruk pikuk ketenangannya? Tuan, puan. Dunia ini hanya tempat singgah, atau bisa kita sebut dengan; ajang dalam memperebutkan surga neraka. Tidakkah malam kesempatan untukmu beristirahat dan berserah? Tidakkah malam kesempatan untukmu dapat mengerti salah dan belajar? Tidakkah malam kesempatan untukmu dapat meminta, tentang maaf dan syukur yang mungkin akan jadi amal tak terduga? Tuan, puan. Sudah sejauh mana kakimu melangkah dengan bekas luka-luka yang bersemayam tepat di dada? Sedang Tuhan membuka peluknya atas segala prahara khianat dan kebohongan yang kita cipta. i/26922. 2.32am.

Patah untuk Jatuh Hati Kembali

Gambar
  Usiaku belum sampai seperempat abad saat menulis ini, tapi pengalaman patah hatiku rasanya sudah luar biasa. Kadang aku bertanya-tanya, patah hati orang lain seperti apa? Apakah sama luar biasanya dari yang aku rasakan atau lebih dari itu? Tapi.. bukankah patah hati pada intinya tetap tentang patah? Tidak ada yang lebih atau kurang, patah ya tetap saja patah. Jika diibaratkan dengan batang pohon, atau tangkai bunga, ketika batang atau tangkai tersebut patah maka ia akan jatuh. Tapi semesta tidak sejahat itu, saat batang atau tangkai tersebut jatuh maka ia akan melebur bersama tanah. Ia akan tumbuh kembali, bersama tumbuhan lain yang lahir diatasnya. Setelah melalui beberapa pengalaman yang sebenarnya juga tidak banyak namun tentu membekas dalam ingatan, ternyata patah tidak seburuk itu. Bagiku patah adalah tentang bagaimana kita tumbuh kembali. Aku sempat berpikir untuk tidak ingin jatuh hati lagi dan juga bertekad untuk menjadi wanita kuat yang bisa hidup sendiri. “Yang penting ...

Apa itu menderita?

Gambar
“Life is suffering.” Pernah denger kalimat itu tidak? Menurut kamu, menderita itu seperti apa? Bagaimana rupanya? Suaranya? Atau.. rasanya? Belakangan ini aku bertanya-tanya tentang apa aku menderita, tapi aku masih bisa tertawa dengan keras. Jadi, apakah aku benar-benar menderita? Atau tawaku yang keras adalah refleksi dari penderitaanku? Bagaimana aku bisa memberikan standarisasi untuk suatu penderitaan itu? Di awal tahun lalu, tepatnya Februari 2021 adalah pertama kalinya aku menemukan benjolan di tubuhku yaitu, ketiakku. Benjolan itu muncul kurang lebih 2minggu. Lalu, masih pada tahun yang sama di pertengahan Juni hingga Juli awal benjolan itu muncul lagi dengan waktu yang lebih lama. Semua benjolan itu kupikir hanya karena iritasi akibat mencukur bulu ketiakku. Di sisi lain aku juga menyadari ada suatu hal yang tidak beres, karena aku merasakan badanku sering panas. Dan perlu kuakui, aku takut. Setelah benjolan itu hilang, aku merasa lebih lega. Tidak disangka, di bulan Oktober ak...

Tentang Kata

Mereka bertanya-tanya, bagaimana aku bisa merangkainya? Atau Bagaimana aku bisa memikirkannya? Sejujurnya aku adalah manusia yang banyak bicara, namun seringkali menyembunyikan apa yang aku rasa sebenarnya. Kadang-kadang aku sulit menjelaskan rasa bahagia maupun sedihku dalam sederhana, tapi.. aku tetap ingin menggambarkannya! Puisi dan tulisan-tulisan yang kucipta adalah warisan dari diriku untuk orang-orang yang aku sayang, juga sebagai bentuk pengakuan diriku terhadap dunia tentang apa yang aku rasakan. Kadang-kadang puisi dan tulisan yang menggambarkan luka lebih dapat diterima daripada kejujuran yang menyakitkan. Karena itu seni. Kalau kata bapak, seni kehidupan. Dan setiap yang tercipta memang berasal dari kehidupan bukan? Tentu kehidupan yang diciptakan oleh Tuhan.  Termasuk segala rasa yang ada. Aku tidak menghafal teori atau mempelajari bagaimana caranya menuliskan kata secara khusus. Mungkin aku memang sudah hidup didalamnya, ah.. lebih tepatnya tulisan dan kata adalah ba...

Si Pendosa

Tanganku lama tak mengadah Merunduk pada alam dan semesta Berbicara pada Tuhan yang jarang kusapa Aku sang buta  angkuh melihat-lihat dunia Menguji sang kelam yang kupikir akan senang dan tenggelam dalam dosa-dosa yang tak ter-elakkan Lagi, kuabaikan segala perintah Yang jelas tercipta jauh sebelum nafasku ada dan tak berteman dengan pahala Lagi, manusia dengan segala apa yang membuatnya bangga dalam sesal. -i

Bagaimana harimu hari ini?

Judul tulisan ini adalah pertanyaan yang kadang sadar tidak sadar kita inginkan dan juga sulit untuk kita ungkapkan kepada orang tersayang.  Si pertanyaan sederhana yang sarat akan makna.  “Bagaimana harimu hari ini?”   Apakah kamu sudah senang? Atau kamu sedang gundah? Atau pula, kamu tidak tau bagaimana mendeskripsikan apa yang sedang kamu rasakan?  Ah, lagi-lagi si pertanyaan sederhana yang sarat akan makna.  Pernah ada orang yang memberitahuku; senang ya senang, sedih ya sedih, marah ya marah. Jika merasakan semuanya artinya kita sedang gundah, kenapa harus bingung? Katanya. Pertanyaan sederhana yang menunjukkan perhatian tapi sering kali kalah oleh gengsi yang tak kelihatan.  Perhatian kan bentuk sayang, kenapa harus kalah dengan gengsi? Apakah itu berarti rasa gengsi lebih besar dari sayang? Tidak! Bukan seperti itu. Akhirnya aku menyadari, bahwa sebagai manusia itu adalah hal yang manusiawi. Bukan karena gengsi lebih besar dari rasa sayang, ya ...

Kacau.

Sejak lama aku sudah pernah bilang, bahwa aku adalah seseorang yang rumit. Yang buta cinta dan perhatian namun haus akan itu semua. Aku adalah kekacauan. Yang memberi luka pada semua sayang. Aku itu seperti benang kusut. Sulit untuk diluruskan, kecuali ada orang yang benar-benar dengan sabar ingin membenarkannya. Tapi aku juga tau, aku terlalu serakah untuk meminta sedang diriku sendiri tidak pantas untuk meminta. Lucu sekali jika harus jujur bahwa saat ini aku depresi dan tidak punya keinginan untuk apapun. Berhenti pada mimpi-mimpiku, dan yang paling menyedihkan dari diriku adalah aku merasa tidak pantas untuk dicintai. Aku menyerah pada diri sendiri dan justru membuat orang yang aku sayangi merasa mati perlahan. Apa yang lebih buruk dari diriku yang tidak berguna ini? Gagal. Bahkan dalam berharap. Aku bertanya-tanya, bagaimana aku dikenang oleh orang-orang yang aku sayangi kelak?  Sedang selama aku mengaku menyayangi mereka, aku justru terus-menerus menanam beban secara sadar ma...