Postingan

Banda Neira

Ternyata aroma tua tidak hanya aku rasakan lewat buku yang menumpuk, tapi juga lewat kata yang kulihat. Banda neira, sebuah surga dunia yang indah. Belum pernah ku kunjungi, hanya kulihat rupanya melalui gambar-gambar di media sosial. Tapi uniknya, namanya selalu mengingatkanku kembali pada masa-masa menjadi mahasiswa baru di tahun 2018. Aku mengingatnya sebagai sebuah grup indie yang lagunya sempat kunyanyikan dengan suara sumbangku ini. Setiap kali aku mendengar ‘Banda Neira’ lewat kata, aku juga mendengar lirik ‘Sampai jadi debu’ lewat ingatan. Aku mencium kembali aroma tua itu, bagaimana udara dinginnya menyentuh kulit, bagaimana usia muda begitu riuh akan hal-hal baru, dan bagaimana percaya diri itu begitu mekar mengiringi tidak hanya di pagi hari —tapi sepanjang hari. Ternyata rekaman akan hari-hari penuh semangat itu masih sangat jelas. Berkat itu aku berjalan mengingatnya dengan senang, tidak kuingat pula hari-hari berat yang sempat membuat hatiku penuh air mata pada saat itu. ...

Sulitnya Mempertahankan

Lebih sulit mempertahankan daripada mendapatkan.  Suatu waktu otakku berpikir lebih keras secara tiba-tiba. Aku tidak bilang bahwa mendapatkan itu mudah, hanya saja mempertahankan memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi untukku pribadi. Kita memang belum tentu dapat meraih atau mendapatkan sesuatu setelah berusaha keras, namun setelah mendapatkannya pun kita juga belum tentu bisa mempertahankan. Dari pengalamanku, ada lebih banyak hal yang bisa didapatkan daripada mempertahankan. Aku juga teringat bagaimana waktu-waktu dimana mereka membutuhkanku, mengajakku bekerjasama, aku ingat bagaimana diriku terbang dengan bebas dan bercahaya.. sampai dimana aku tidak bisa mempertahankan itu. Hilang lebih cepat daripada proses tumbuh yang memakan waktu lama. Aku ingat bagaimana aku mencapai kapasitas diriku, sampai aku terjatuh dan tidak bisa mempertahankan keseimbangan itu. Bagaimana mereka yang mengajakku bekerjasama, hilang tanpa pernah benar-benar pamit atau memutuskan untuk pergi sa...

Sebuah Kisah Dan. Bagaimana, Lara?

Ini sebuah kisah. Dan. Bagaimana, Lara? Pada upayamu yang bergeliyat diantara harap dan hiruk pikuknya dunia dengan kaki kecil yang mungkin terlihat seperti dua potong kayu yang tidak pernah cukup untuk menopang kursi. Masihkah ia bertahan? meski nyaris patah tak beraturan. Tahun ini menjadi tahun yang benar-benar luar biasa bagiku, entah bagaimana mendeskripsikannya? Berlapis antara senang dan luka-luka yang sama sekali tidak kupersiapkan, meski kumengerti jika memang hidup selalu punya pasang-surutnya. Ada banyak sekali moment yang telah kupersiapkan namun ternyata tidak bisa kurayakan, meski begitu tetap kukenang dan terima dengan sayang pada akhirnya. Begitupula dengan mimpi-mimpi yang ternyata hanya cukup indah untuk dibayangkan saja. Dan. Bagaimana, Lara? Pada upayamu berteman dengan luka dan bahagia yang sesekali menyapa? Apa syukurmu masih merasuki relung hati yang perih itu? Apa hidupmu yang tidak lagi sama masih bisa kau beri warna-warna hangat yang berharga? Apa Tuhan masih ...

Insecure

Dalam hidup ini seenggaknya kita pasti pernah sekali merasa engga percaya diri, engga mampu, dan “kok orang-orang hebat banget yaa?” Kebetulan aku tumbuh di kelilingi oleh orang-orang yang cukup luar biasa. Rasanya melihat orang-orang bisa mencapai mimpi atau target mereka tuh ikut bangga banget! Uhmm tapi.. Kadang saking ‘hijaunya rumput tetangga’ buat kita lupa kita juga punya value yang luar biasa! Well, liat orang lain emang engga ada habisnya ga sih? Mereka yang udah berhasil capai mimpi/target juga punya kesulitan sendiri yang sometime engga ‘relate’ sama pemikiran kita. Yah balik lagi, sekalipun jadi saksi tapi tetep aja yang paling tau dan yang paling paham rasanya ya si empunya. Nyaksiin temen-temen seperjuangan bisa dapet beasiswa ke luar negeri atau berhasil terbang kemana-mana itu selain bangga jadi salah satu seorang temen, sedikit banyaknya ada aja perasaan kaya.. “kok bisa ya?”  “aku kapan ya?”  “padahal aku juga usaha kok tapi aku engga bisa gitu ya?” Gapapa! W...

Kamis dan Seninku yang mendung

Ingin kuperlihatkan hujan di tempat lain seperti lagu Sal Priadi tapi ternyata saat ini lebih mungkin untuk memperlihatkan hujan di pipi. Tiba-tiba lirik “kita usahakan rumah itu.” terjun bebas menggelitik telinga dan hatiku. Lagi-lagi si Sal Priadi yang tidak sopan membaca hati pendengarnnya dan menyindir lewat lagu. Ah, Sal! Kenapa senang sekali begitu?   Hari-hari kulalui untuk menanti sinar matahari yang terbit meski tanpa pernah tau sinarnya akan menyehatkan atau justru menyakitkan. Sayangnya kali ini penantianku tidak terjawab, lagi.   Aku masih disini, bersama aku yang masih saja keras kepala menanti.   “Tuhan, setidaknya biarkan jingga nampak indah.” Kataku memohon kasih dalam hati.   Tapi hari ini mungkin lagi-lagi memang kertas hitam dan putih harus bekerja. Tidak apa-apa, setidaknya hari ini aku masih ada.

Pernah dengar?

Susahnya orang miskin hanya dapat dimengerti orang miskin, kayanya orang kaya hanya dapat dimengerti orang kaya. Sakitnya pejuang kanker hanya dapat dimengerti penderita kanker, dan sehatnya orang sehat hanya dapat dimengerti orang sehat. Lewat teori dan melihat, kita mungkin bisa tau. Tapi soal rasa, tidak ada yang lebih mengerti daripada yang mengalami. Kita mungkin bisa memasukkan afirmasi-afirmasi positif, tapi penerimaannya tentu punya proses yang pelik. Karena bagi si empunya, ia sudah berproses dengan semua rasa itu atau bahkan tumbuh bersama. Miskin-kaya, sakit-sehat, sedih-bahagia, sekiranya sampai mana standar yang ada untuk itu semua? Jawabannya, tidak ada. Mungkin kita dituntut untuk tidak memperlihatkan sedih, susah, sakit. Mungkin kita harus memperlihatkan bahagia, yang intinya jangan sampai siapapun dapat melihat kelemahanmu. Itu bagus, tapi perlu diingat kamu adalah manusia. Dengarkan siapapun yang menyemangati, tapi tetap ingat bahwa kamu yang paling mengerti dan tau d...

Salam Syukur dari Gagal

Aku bertanya-tanya perihal kakiku yang lusuh tersayat aspal kehidupan, juga jemariku yang sudah tidak lurus karena berusaha menggapai segala mimpi disana. Lalu, bagaimana nafasku yang gagap ternyata memiliki paru-paru yang sehat? Dan juga, bagaimana jiwaku yang sekarat masih ada di dunia? Ternyata jawabannya karena Tuhan sedang memberiku selamat. “Selamat, kamu sedang menuju tangga yang lebih tinggi dan sudah melewati kesulitan yang lain.” Padahal kupikir aku sedang diejek semesta karena sering gagal terhadap tujuan yang telah aku tetapkan. Lalu aku ditampar syukur, syukur yang seringkali aku tinggal. Syukur yang seringkali tenggelam bersama praduga yang belum tentu jadi kenyataan. “Tuhan, maaf.” Kataku. Dan, ku ambil cermin yang sudah retak, masih kulihat ada aku di dalamnya. Aku, masih bisa melihat! “Maaf.” Lagi, kataku sambil melihatnya. Lalu ku lengkungkan senyuman yang sudah lama bersemayam dibalik lara. “Terima kasih ya, sudah mau berjuang.”

Tentang Malam

Bagaimana kamu akan memaknai malam yang tidak henti-hentinya membuat nafas bimbang ? Bagaimana kamu mengartikan segala kesunyian sedang isi kepala riuh dengan irama  yang tak jelas di tengah hiruk pikuk ketenangannya? Tuan, puan. Dunia ini hanya tempat singgah, atau bisa kita sebut dengan; ajang dalam memperebutkan surga neraka. Tidakkah malam kesempatan untukmu beristirahat dan berserah? Tidakkah malam kesempatan untukmu dapat mengerti salah dan belajar? Tidakkah malam kesempatan untukmu dapat meminta, tentang maaf dan syukur yang mungkin akan jadi amal tak terduga? Tuan, puan. Sudah sejauh mana kakimu melangkah dengan bekas luka-luka yang bersemayam tepat di dada? Sedang Tuhan membuka peluknya atas segala prahara khianat dan kebohongan yang kita cipta. i/26922. 2.32am.

Patah untuk Jatuh Hati Kembali

Gambar
  Usiaku belum sampai seperempat abad saat menulis ini, tapi pengalaman patah hatiku rasanya sudah luar biasa. Kadang aku bertanya-tanya, patah hati orang lain seperti apa? Apakah sama luar biasanya dari yang aku rasakan atau lebih dari itu? Tapi.. bukankah patah hati pada intinya tetap tentang patah? Tidak ada yang lebih atau kurang, patah ya tetap saja patah. Jika diibaratkan dengan batang pohon, atau tangkai bunga, ketika batang atau tangkai tersebut patah maka ia akan jatuh. Tapi semesta tidak sejahat itu, saat batang atau tangkai tersebut jatuh maka ia akan melebur bersama tanah. Ia akan tumbuh kembali, bersama tumbuhan lain yang lahir diatasnya. Setelah melalui beberapa pengalaman yang sebenarnya juga tidak banyak namun tentu membekas dalam ingatan, ternyata patah tidak seburuk itu. Bagiku patah adalah tentang bagaimana kita tumbuh kembali. Aku sempat berpikir untuk tidak ingin jatuh hati lagi dan juga bertekad untuk menjadi wanita kuat yang bisa hidup sendiri. “Yang penting ...

Apa itu menderita?

Gambar
“Life is suffering.” Pernah denger kalimat itu tidak? Menurut kamu, menderita itu seperti apa? Bagaimana rupanya? Suaranya? Atau.. rasanya? Belakangan ini aku bertanya-tanya tentang apa aku menderita, tapi aku masih bisa tertawa dengan keras. Jadi, apakah aku benar-benar menderita? Atau tawaku yang keras adalah refleksi dari penderitaanku? Bagaimana aku bisa memberikan standarisasi untuk suatu penderitaan itu? Di awal tahun lalu, tepatnya Februari 2021 adalah pertama kalinya aku menemukan benjolan di tubuhku yaitu, ketiakku. Benjolan itu muncul kurang lebih 2minggu. Lalu, masih pada tahun yang sama di pertengahan Juni hingga Juli awal benjolan itu muncul lagi dengan waktu yang lebih lama. Semua benjolan itu kupikir hanya karena iritasi akibat mencukur bulu ketiakku. Di sisi lain aku juga menyadari ada suatu hal yang tidak beres, karena aku merasakan badanku sering panas. Dan perlu kuakui, aku takut. Setelah benjolan itu hilang, aku merasa lebih lega. Tidak disangka, di bulan Oktober ak...

Tentang Kata

Mereka bertanya-tanya, bagaimana aku bisa merangkainya? Atau Bagaimana aku bisa memikirkannya? Sejujurnya aku adalah manusia yang banyak bicara, namun seringkali menyembunyikan apa yang aku rasa sebenarnya. Kadang-kadang aku sulit menjelaskan rasa bahagia maupun sedihku dalam sederhana, tapi.. aku tetap ingin menggambarkannya! Puisi dan tulisan-tulisan yang kucipta adalah warisan dari diriku untuk orang-orang yang aku sayang, juga sebagai bentuk pengakuan diriku terhadap dunia tentang apa yang aku rasakan. Kadang-kadang puisi dan tulisan yang menggambarkan luka lebih dapat diterima daripada kejujuran yang menyakitkan. Karena itu seni. Kalau kata bapak, seni kehidupan. Dan setiap yang tercipta memang berasal dari kehidupan bukan? Tentu kehidupan yang diciptakan oleh Tuhan.  Termasuk segala rasa yang ada. Aku tidak menghafal teori atau mempelajari bagaimana caranya menuliskan kata secara khusus. Mungkin aku memang sudah hidup didalamnya, ah.. lebih tepatnya tulisan dan kata adalah ba...

Si Pendosa

Tanganku lama tak mengadah Merunduk pada alam dan semesta Berbicara pada Tuhan yang jarang kusapa Aku sang buta  angkuh melihat-lihat dunia Menguji sang kelam yang kupikir akan senang dan tenggelam dalam dosa-dosa yang tak ter-elakkan Lagi, kuabaikan segala perintah Yang jelas tercipta jauh sebelum nafasku ada dan tak berteman dengan pahala Lagi, manusia dengan segala apa yang membuatnya bangga dalam sesal. -i